WartaDepok.com- DPC PDIP Perjuangan Kota Depok membuat keputusan mengejutkan. Mereka mengklaim bakal mencalonkan Afifah Alia dalam Pilkada Depok 2020.
Afifah saat ini menjabat sebagai Ketua Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Depok. Dia merupakan salah satu peserta penjaringan calon wali kota yang mendaftar di DPD PDIP Jabar.
Fungsionaris PDIP, Totok Sarjono heran dengan sikap DPC partainya. Selama 32 tahun berpartai, baru kali ini sebuah DPC bisa memutuskan siapa yang bakal didorong.
“Lucu jadinya. Dimana-mana, rekomendasi, putusan calon yang diusung, mutlak DPP. Bukan DPD apalagi DPC,” ujar Totok ketika dihubungi media di Depok, Selasa (18/2).
Towels-sapaannya- menegaskan bahwa DPC hanya bertugas menyelenggarakan dan menjaring aspirasi para calon. Pun DPD Jabar, kata dia, sifatnya hanya dalam konteks kajian komprehensif seluruh calon.
“Kemudian dari hasil itu, baru diserahkan semua hasilnya ke DPP. Ini tiba-tiba kok DPC mengklaim calon Si A diusung partai,” jelas pria yang juga berstatus Kader Pendidik PDIP tersebut.
Towels juga mempertanyakan ihwal klaim DPC bahwa Afifah menyisihkan peserta penjaringan. Di antaranya Habib Riza Al Habsy, Qomar, hingga Novel Saleh Hilabi.
“Gak ada istilah eliminasi. Semuanya DPP yang memutuskan. Ini partai, bukan Indonesian Idol bung,” tegas mantan Sekretaris DPC PDIP Depok itu.
Towels mengingatkan agar seluruh kader PDI Perjuangan mentaati seluruh aturan partai. Termasuk dalam hal mekanisme penjaringan calon wali kota Depok. Termasuk dirinya yang siap tempur tegak lurus mengawal keputusan DPP Partai atau Ketua Umum Megawati Soekarnoputri, siapapun dia.
“Semua ada aturannya, harus paham, PDI Perjuangan itu punya garis partai yang jelas. Jangan asal. Apalagi saat ini muncul nama Yenny Sucipto yang masuk lewat penjaringan DPP. Jika ternyata klaim DPC PDIP Depok soal Bu Afifah berbeda dengan keputusan DPP akhir Maret nanti bagaimana? Kasihan Bu Afifah kan,” tukasnya.
Sebelumnya Ketua DPC PDI Perjuangan, Hendrik Tangke Allo menegaskan pihaknya sudah mantap untuk mengusung kader internalnya yakni Hj Afifah Alia yang akan diduetkan dengan wakil wali kota petahana, Pradi Supriatna pada pilkada Depok, Rabu 23 September 2020.
“Oh iya (mengusung Afifah,red), Bu Afifah ini kan memang kader PDI Perjuangan yang kami yakini beliau bisa membawa perubahan di Depok jika menjadi wakil wali kota. Kami di PDI Perjuangan mengedepankan kader, kemudian latar belakang Bu Afifah juga menjadi suatu pertimbangan sehingga kami yakin. Jika bicara ideologi Bu Afifah sudah memahami,” ujar Hendrik kepada Jurnal Depok, Senin (17/2).
Pria yang akrab disapa HTA juga mengungkapkan, nama lainnya yang ikut penjaringan seperti Habib Riza Al Habsyi, Nurul Qomar dan kandidat lainnya telah ‘terdiskualifikasi’ seiring terpilihnya Afifah.
“Kalau kemarin di Jawa Barat yang masuk ke DPP nama Bu Afifah. Beliau kader PDI Perjuangan serta Ketua Bamusi yang merupakan sayap PDI Perjuangan,” paparnya.
Dikatakan HTA, bahwa Afifah mengikuti penjaringan bakal calon wali kota-wakil wali kota Depok melalui tahapan yang kedua di DPD PDI Perjuangan Jawa Barat.
“Di sanalah Bu Hj Afifah mendaftar, setelah menjalankan fit and proper test beliau dianggap mampu. Latar belakang beliau adalah orang teknik, kami rasa pas karena Depok ini membutuhkan pemahaman orang teknik yang bisa membenahi kesemrawutan infrastruktur di Depok,” pungkasnya.(zan/WD/JD)